Warna (dalam Lukisan) Bali

Secara khusus dalam budaya visual tradisional Bali, warna putih menjadi satu dari tiga warna utama, selain merah dan hitam.

Nyaris setiap hari kita melihat dinding putih di kamar atau rumah. Setiap hari pula sebuah pertanyaan selalu hadir. Apakah putih pada dinding itu bisa dianggap sebagai warna? Jika Anda menjawab iya, maka di balik dinding putih sesungguhnya tersembunyi banyak makna.

Demikian pula dalam lukisan. Putih adalah salah satu warna penting untuk mengatur nuansa dan tujuan melukis. Begitu pentingnya, muncul banyak sebutan untuk tube cat warna putih, di antaranya zinc white, pure white, titanium white, atau iridescent white.

Secara khusus dalam budaya visual tradisional Bali, warna putih menjadi satu dari tiga warna utama, selain merah dan hitam. Ketiganya merujuk pada sistem simbolik tiga warna utama yang memiliki makna filosofis, kosmologis, dan ritual pada banyak materi lokal di Bali. Konsep ini tidak berkutat pada persoalan estetika warna semata, tetapi juga berkaitan erat dengan pandangan dunia masyarakat Bali, terutama dalam kerangka Tri Hita Karana dan kosmologi Hindu Bali.

Berbagai kisah tentang warna secara menarik ditulis dalam buku berjudul Warna Bali. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada 2026 ke dalam dua bahasa: bahasa Indonesia bersampul putih dan bahasa Inggris bersampul hijau.

Secara khusus, akar hubungan budaya Bali dengan Tiongkok dan India di masa lampau menjadi catatan utama dalam buku ini. Salah satunya kajian terkait warna merah yang ditulis cukup rinci oleh Savitri Sastrawan.

Dengan mengambil sampel berupa warna zhu sha atau gincu (warna: vermilion) yang kini populer di tradisi Bali. Gincu atau kini populer disebut lipstik dihasilkan dari mineral warna merah tua yang disebut ”cinnabar” atau mercury sulphite. Seturut artikel Edward H Scrafer, The Early History of Lead Pigments and Cosmetics in China (1956), proses ekstraksi dan oksidasi material semacam ini diperkirakan telah ada di Tiongkok sejak 3.000 SM. Ini memberi bukti bahwa hubungan dan relasi budaya dan keterpengaruhan menjadi wacana penting.

Lima penulis buku 274 halaman ini masing-masing membahas interkoneksi antara Bali dan budaya luar (seperti Tiongkok, India, dan Asia Tenggara) yang tersirat melalui warna. Penulis Seriyogaparta, misalnya, mengkaji lukisan wayang Ramayana di Desa Tigawasa sebagai bagian dari sejarah perdagangan Nusantara dan Asia.

Narasi budaya yang tersimpan dalam penggunaan dan proses kreatif pada elemen warna di dalam lukisan gaya Kamasan pada bagian akhir buku ini ditulis dengan baik oleh Made Susanta Dwitanaya. Melalui beragam esai disimpulkan bahwa, meskipun dipengaruhi oleh budaya luar, identitas warna Bali tetaplah mengandung dua hal utama: simbolis dan magis.

Secara umum, buku yang berbasis sejarah seni dan estetika ini dapat menjadi contoh bagi wilayah lain untuk melacak asal-usul warisan budaya lokal di Indonesia. Dengan mengetahui sejarah, cara berpikir, ataupun proses teknik pembuatan pigmen hingga estetika warna, pembaca perlu menyadari bahwa aset budaya lokal seperti warna Bali tidaklah muncul begitu saja. Ada banyak kaitan pengaruh antarbudaya ataupun konsepsi yang berhubungan antara manusia dan alam serta Sang Maha Pencipta di dalamnya.

Sayangnya, buku ini secara konseptual masih berfokus pada kerangka internal. Lebih tepatnya, menempatkan warna sebagai bagian inheren dari sistem kosmologi budaya Bali sendiri. Pernyataan dalam pengantar editor—yang menegaskan bahwa warna lahir dari kekosongan kosmik dan berpusat pada struktur empat arah dengan satu titik tengah—menunjukkan bahwa pembahasan difokuskan pada struktur simbolik yang bersifat endogen. Dalam hal ini, warna diposisikan sebagai bagian dari sistem pengetahuan lokal yang relatif masih tertutup dan otonom.

Meskipun pendekatan tersebut penting sebagai fondasi, terasa membatasi imajinasi pembaca. Dengan tetap berada dalam wilayah mikro—yakni pada tataran kosmologi, simbol, dan struktur internal budaya—buku ini belum sepenuhnya mengaitkan warna dengan dinamika eksternal, seperti transformasi historis, benturan peradaban, ataupun sirkulasi global dalam seni rupa atau budaya kontemporer.

Padahal, dalam konteks mutakhir, warna tidak hanya berfungsi sebagai sistem simbolik, tetapi juga sebagai bagian dari praktik budaya yang berkelindan dengan ekonomi kreatif, industri pariwisata, wacana identitas, bahkan politik serta bisnis global. Sistem seperti Nawa Sanga dan Tridatu yang disinggung dalam buku ini perlu dibaca ulang, baik sebagai kosmologi lokal maupun sebagai bentuk pengetahuan visual yang berpotensi bernegosiasi dengan praktik seni dan pasar budaya global.

Oleh karena itu, pengembangan ke depan perlu diarahkan pada perluasan kerangka analisis, dari pendekatan simbolik menuju pendekatan yang lebih kontekstual dan interdisipliner. Ini mencakup pembacaan warna dalam relasinya dengan sejarah material, mobilitas budaya, serta ekonomi visual global. Dengan demikian, warna Bali jangan sampai dipahami sebagai warisan budaya yang statis. Buku ini punya kesempatan sebagai medan dinamis yang terus diproduksi, dinegosiasikan, dan direpresentasikan dalam berbagai konteks.

Dalam konteks mutakhir, warna tidak hanya berfungsi sebagai sistem simbolik, tetapi juga sebagai bagian dari praktik budaya yang berkelindan dengan ekonomi kreatif, industri pariwisata, dan wacana identitas, bahkan politik global.

Jadi, warna putih pada sampul buku ini sesungguhnya meminta kita untuk memperdalam makna atas keberadaan warna Bali. Sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya.

Mikke Susanto
Kurator dan Staf Pengajar ISI Yogyakarta

Sampul buku “Warna Bali”

Warna Bali

Penulis:
– I Wayan Seriyoga Parta
– I Made Susanta Dwitanaya
– Dewa Gede Purwita
– Dewa Ayu Eka Savitri Sastrawan
– I Gede Gita Purnama Arsa Putra

Editor Bahasa: Putu Fajar Arcana
Tebal: vi+274 halaman (280 halaman) 20 cm x 27 cm
Terbit: 2026
Penerbit: Penerbit Buku Kompas

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *