Bedah Buku Warna Bali di Bandung, Kupas Filosofi Warna dan Jejak Budaya

Warna dalam budaya Bali ternyata memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar unsur estetika. Di balik merah, biru, kuning, hingga hitam tersimpan nilai spiritual, kosmologi, ritual, dan sejarah panjang yang membentuk identitas masyarakat Bali.

Perspektif tersebut diangkat dalam bedah buku Warna Bali yang digelar Yayasan Parahyangan Satya bersama Yayasan Satya Djaya Raya di Silokarupaka Indoor Theater, Bale Pare, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, Rabu (22/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian diskusi keliling setelah sebelumnya digelar di Jakarta dan selanjutnya akan menyambangi Yogyakarta serta Bali.

Ketua Yayasan Satya Djaya Raya, I.G. Mahendra Kusumaputra, mengatakan buku tersebut menjadi pengingat bahwa warna dalam tradisi Bali tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakatnya.

“Buku Warna Bali ini adalah peta jalan pulang menuju pemahaman bahwa warna dalam tradisi Bali bukanlah sekadar estetika. Warna adalah simbol kosmologi, bahasa spiritual, dan cara manusia berdialog dengan alam serta leluhur,” kata Mahendra melalui siaran pers diterima IDN Times, Jumat (24/7/2026).

Buku Warna Bali merupakan hasil kolaborasi lima seniman dan akademisi Bali, yakni I Wayan Seriyoga Parta, I Made Susanta Dwitanaya, Dewa Gede Purwita, Dewa Ayu Eka Savitri Sastrawan, dan I Gede Gita Purnama Arsa Putra. Bedah buku menghadirkan kurator sekaligus dosen Pascasarjana ITB Rizki A. Zaelani, Kurator Selasar Seni Sunaryo Heru Hikayat, dan kurator muda Qanissa Aghara, dengan Ahda Imran sebagai moderator.

1. Warna Bali bukan sekadar estetika, tapi bahasa spiritual

Buku Warna Bali mengulas bahwa warna dalam tradisi Bali merupakan sistem pengetahuan yang berkaitan erat dengan teologi, kosmologi, ritual, hingga kehidupan spiritual masyarakat. Warna bukan hanya digunakan untuk mempercantik karya seni, tetapi menjadi simbol yang menghubungkan manusia dengan alam dan leluhur.

Dalam praktik budaya, warna hadir dalam berbagai medium, mulai dari sajen, topeng, lukisan wayang Kamasan, hingga kain tenun tradisional. Setiap warna memiliki makna yang berbeda sesuai konteks penggunaannya.

Menurut Mahendra, pemahaman tersebut penting agar masyarakat tidak lagi memandang warna tradisional hanya sebagai unsur dekoratif.

“Warna adalah simbol kosmologi, bahasa spiritual, dan cara manusia berdialog dengan alam serta leluhur,” ujarnya.

2. Pigmen warna tradisional dibuat dari bahan alami dengan proses panjang

Buku ini juga mengungkap bagaimana warna-warna tradisional Bali berasal dari material alami yang diolah melalui proses panjang. Warna merah berasal dari cinnabar atau gincu, biru dari daun indigo, kuning dari kunyit, sementara hitam dibuat dari arang maupun jelaga.

Proses pembuatannya tidak sesederhana menggunakan cat sintetis modern. Misalnya, warna hitam diperoleh dari jelaga minyak kelapa atau arang buah camplung, sedangkan warna biru harus melalui fermentasi daun indigo. Seluruh proses membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.

Buku tersebut ingin mengingatkan bahwa di balik setiap warna terdapat nilai budaya yang patut dilestarikan. Kehadiran cat sintetis memang memudahkan proses berkarya, namun perlahan menggeser penggunaan material tradisional yang menyimpan filosofi mendalam.

3. Budaya Bali berkembang lewat akulturasi, bukan budaya yang tertutup

Selain membahas filosofi warna, buku Warna Bali juga mengupas jejak akulturasi budaya yang membentuk identitas Bali. Salah satu contohnya adalah penggunaan pigmen merah yang dikenal sebagai gincu atau kencu, yang memiliki hubungan sejarah dengan penggunaan zhu sha atau cinnabar dari Tiongkok.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa Bali berkembang sebagai budaya yang terbuka terhadap berbagai pengaruh dari luar. Berbagai unsur tersebut kemudian diolah dan disesuaikan hingga menjadi bagian dari identitas budaya Bali yang dikenal saat ini.

Melalui diskusi di Bandung, penyelenggara berharap masyarakat, pegiat seni, maupun akademisi dapat memahami warisan budaya Nusantara dari perspektif yang lebih luas. Setelah Bandung, rangkaian bedah buku Warna Bali akan berlanjut ke Yogyakarta dan Bali sebagai upaya memperluas diskusi mengenai pelestarian budaya melalui pendekatan akademis dan artistik.

Similar Posts

  • Warna (dalam Lukisan) Bali

    Secara khusus dalam budaya visual tradisional Bali, warna putih menjadi satu dari tiga warna utama, selain merah dan hitam. Nyaris setiap hari kita melihat dinding putih di kamar atau rumah. Setiap hari pula sebuah pertanyaan selalu hadir. Apakah putih pada dinding itu bisa dianggap sebagai warna? Jika Anda menjawab iya, maka di balik dinding putih…

  • Peluncuran Buku – Warna Bali

    Warna Bali adalah buku yang mengulas makna warna dalam budaya Bali sebagai bagian dari sistem pengetahuan yang berakar pada kosmologi, spiritualitas, sejarah, dan identitas budaya. Diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, buku ini diluncurkan pada 16 April 2026 dalam acara “Warna Bali: Ketika Sistem dan Pertemuan Menjadi Identitas” yang diselenggarakan oleh Harian Kompas bersama Yayasan Satya…

  • Ubud Art Ground

    Yayasan Satya Djaya Raya dengan bangga mempersembahkan Ubud Art Ground (UAG), sebuah platform seni dan budaya baru di Ubud, Bali, yang menjadi titik temu antara tradisi artistik dan ekspresi kontemporer. Ubud Art Ground dirancang untuk mendorong pertukaran budaya serta memperdalam wawasan artistik bagi seniman dan audiens, baik dari dalam maupun luar negeri. Dengan menjembatani tradisi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *